Tradisi Sambatan Masih Terjaga, Warga Desa Tanjung Gotong Royong Perbaiki Rumah

Oleh: Mahmudi

REMBANG, FaktaRakyat. Id| — Sekitar pukul 10.00 WIB, suasana di RT 02 RW 01 Desa Tanjung, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, tampak berbeda dari biasanya. Puluhan warga berkumpul, bukan untuk acara seremonial, melainkan bergotong royong memperbaiki rumah milik salah satu warga, Sukur.

Dengan peralatan sederhana, mereka bekerja bersama-sama. Sebagian mengangkat rangka atap kayu menggunakan batang bambu, sementara yang lain menata genteng dan membersihkan sisa bongkaran bangunan. Tidak ada komando resmi, namun pekerjaan berjalan rapi berkat kebiasaan yang telah terbangun sejak lama.

Kegiatan tersebut merupakan wujud nyata tradisi sambatan, budaya gotong royong yang masih dipertahankan oleh masyarakat setempat.

Suwardji, warga RT 01 RW 01 Desa Tanjung, mengatakan bahwa sambatan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Kalau ada tetangga yang punya hajat atau memperbaiki rumah, ya kita bantu bersama. Sudah dari dulu seperti itu,” ujar Suwardji.

Menurutnya, tradisi ini tidak hanya meringankan beban pekerjaan, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga. Kebersamaan yang terbangun dalam sambatan menjadi kekuatan sosial yang sulit tergantikan.

Di lokasi kegiatan, tampak warga dari berbagai usia ikut terlibat. Mulai dari anak muda hingga orang tua, semuanya berbaur tanpa membedakan peran. Mereka bekerja dengan kesadaran sendiri, tanpa mengharapkan imbalan.

Pemilik rumah, Sukur, mengaku terbantu dengan adanya sambatan. Ia menyebut, tanpa keterlibatan warga, proses perbaikan rumah akan memakan biaya dan waktu yang lebih besar.

“Alhamdulillah, warga banyak yang membantu. Pekerjaan jadi lebih ringan dan cepat selesai,” katanya.

Tradisi sambatan di Desa Tanjung tidak hanya dilakukan saat pembangunan rumah. Warga juga menerapkannya dalam berbagai kegiatan lain, seperti hajatan, kerja bakti lingkungan, hingga kegiatan sosial lainnya.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, keberadaan sambatan menjadi bukti bahwa nilai gotong royong masih hidup dan dijaga oleh masyarakat. Tradisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kekuatan kebersamaan tetap relevan dalam kehidupan sosial.